Harapan Untuk Bupati Banyumas Mendatang

Banyumas segera menyongsong Pilbup 2018. Berikut harapan kepada Bupati yang nanti terpilih dari seorang warganet. (Red) 

KALIAN BERDUA PUNYA NYALI?

Kalau pada kabupaten tetangga, keuntungan usaha dari perusahaan-perusahaan besar dan pabrik-pabrik besar yang ada, dibawa ke Jakarta bahkan ke Meksiko, Korea dan Tiongkok.

Keberadaan perusahaan dan pabrik yang ada memang memberi share ekonomi pada Pemkab berupa pajak, restribusi dan lapangan pekerjaan yang bersifat padat karya serta upah bagi warganya yang menjadi buruh.

Kalau pada kita (Banyumas – red)  tidak demikian, karena kita mempunyai ‘mesin ekonomi kerakyatan’ berupa Unsoed, UMP dan perguruan tinggi lainnya yang mahasiswanya berasal dari luar kota. Kita pun tak perlu malu-malu jika menyetarakan dengan kota selevel lainnya seperti Solo, Malang dan Bogor.

Uang kiriman dari orang tua mahasiswa kost yang mencapai puluhan milyar tiap bulan, membuat perputaran uang di kota Purwokerto dan Kabupaten Banyumas sangat banyak. Sektor riil pun jadi sangat hidup dan menghidupi.

Apa sebabnya? Karena uang yang berasal kiriman para orang tua mahasiswa luar kota itu langsung dibelanjakan oleh para mahasiswa untuk biaya keperluan kuliah, biaya hidup dan biaya yang lain. Setelah uang itu habis dibelanjakan pada bulan ini, uang itu pun akan datang lagi bulan berikutnya. Begitu seterusnya.

Keuntungan dari usaha-usaha kecil dan menengah akibat banyaknya perputaran uang dari luar kota itu tetap beredar di Purwokerto dan Kabupaten Banyumas, karena tidak dibawa pulang oleh “investornya” ke Jakarta atau ke luar negeri.

Adanya banyak perguruan tinggi di Purwokerto mungkin yang menyebabkan angka pertumbuhan ekonomi Banyumas melampaui angka pertumbuhan ekonomi rata-rata di Jateng, bahkan melampaui angka pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional. Angka inflasi Kabupaten Banyumas pun sangat positif, karena termasuk terendah di bawah angka inflasi rata-rata Provinsi Jawa Tengah bahkan di bawah angka inflasi rata-rata nasional.

Kemiskinan,  Sebuah Ironi

Ironinya, Kabupaten Banyumas mempunyai angka kemiskinan yang termasuk tertinggi di Jawa Tengah. Hal ini merupakan anomali. Indikator ekonomi yang ditunjukkan itu mungkin malpraktek dari disain pembangunan atau bahkan tidak didisain. Pembangunannya kurang didisain.

Seandainya kelebihan-kelebihan yang dipunyai Purwokerto dan Kabupaten Banyumas dikombinasikan dengan kelebihan yang dipunyai Kabupaten Cilacap dan Purbalingga, dan seandainya di Kabupaten Banyumas didirikan banyak industri pengolahan berbahan baku prodak pertanian yang sangat padat karya, yang mengolah bahan baku dari hulu sampai hilir, mungkin akan sangat membantu menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Banyumas.

Angka kemiskinan tinggi yang bisa ditunjukkan oleh “gini ratio” yang dipunyai Kabupaten Banyumas menunjukkan angka kesenjangan ekonomi yang sangat tajam.

Bupati Banyumas yang terpilih pada Pilkada 2018 tak perlu pintar-pintar amat. Asalkan figur yang peka pada kelebihan dan kekurangan yang dipunyai Kabupaten Banyumas, serta pintar “memoderasi” potensi-potensi yang ada dan pintar menutup kekurangan dan pintar melipatgandakan kelebihan yang dipunyai Kabupaten Banyumas.

Bupati yang berkompetensi demikian mudah-mudahan bisa membuat postur APBD Kabupaten Banyumas yang telah mencapai 3,7 T makin proposional, sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hanya ratusan juta rupiah tidak jomplang sekali dengan Dana Alokasi Umum (DAU).

Bupati Banyumas terpilih nantinya tidak usah pintar-pintr amat, asalkan bisa menaikkan PAD sepuluh kali lipat, bahkan dua puluh kali lipat, supaya postur APBD-nya simetris antara PAD dan DAU.

Bupati Banyumas terpilih harus mau mencanangkan dan merealisasikan pertumbuhan ekonomi dan jangan menjalankan prinsip pembangunan dengan stabilisasi ekonomi. Prinsip pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi tentu saja menciptakan kondisi tidak nyaman dan penuh gejolak, karena kuweh-kuweh lama dan kewenangan liar akan menyusut.

Tentu saja, Bupati Banyumas terpilih diminta untuk menjalankan prinsip pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, harus punya nyali dan berani memerintah di bawah tekanan tinggi!

Pembangunan berprinsip bertumbuhan ekonomi memang harus memangkas biaya rutin berupa belanja pemerintah untuk dialokasikan pada belanja publik (infrastruktur). (Hari Widiyanto) 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*