Urip Mung Mampir Ngombe

URIP MUNG MAMPIR NGOMBE

Aku ngelak tak ombeni ciu
botole putih njerone biru

Timbang mikir nasib lan susahe
urip iki lak mek mampir ngombe
Golek ciu botole gedhe
Trima mendhem timbang luwe.

Sepenggal bait jula juli di zaman Cak Kartolo di tahun 1980-an, sebenarnya untuk menyindir salah satu anggotanya dan –tentu– para anggota masyarakat yang kecanduan miras.

Falsafah Jawa “urip mung mampir ngombe” yang tampak sederhana, namun memiliki isyarat makna yang sangat dalam ini, barangkali ditafsirkan secara dangkal dan apa adanya.

Hidup hanya mampir minum, hidup yang singkat ini harus dipergunakan untuk kebaikan sesuai kehendak Sang Pencipta, namun seringkali ditafsirkan untuk kesenangan duniawi belaka.

Baru-baru ini di salah satu stasiun televisi swasta diberitakan, di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah terjadi korban pesta miras oplosan. Tidak tanggung-tanggung,  20 orang meninggal dan puluha lainnya masih dalam perawatan. Sungguh angka yang fantastis.

Urip mung mampir ngombe, miras oplosan sudah menjadi gaya hidup? Gaya hidup lewat kenikmatan semu, kebahagiaan ilutif. Di zaman yang makin “merohani”, masih saja ada yang membuat jarak antara kematian dan happy ini begitu dekat.

Ciu gambar semar
habis ditenggak akal tak nalar.

(Iman Nurtjahjo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*