Situs Watu Lumpang, Ada Penunggunya?

Watu Lumpang , sebuah situs di Cilongok, Kabupaten Banyumas, konon ada penunggunya. Ini ceritanya.

Wilayah Kecamatan Cilongok yang berbatasan dekat dengan lereng Gunung Slamet, memiliki beberapa situs yang tersebar di beberapa desa antara lain di Desa Sokawera, Gununglurah, Sambirata, Karangtengah, Penambangan, dan Karanglo.

Salah satu situs yang masih terpelihara adalah Situs Cilongok yang terletak di Grumbul Ragung, Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Walaupun tertulis Situs Cilongok masyarakat sekitar lebih mengenal dengan nama Situs Sambirata atau Situs Watu Lunmpang karena bentuknya seperti lumpang.

Situs Watu Lumpang yang terpelihara

Parwati, mengaku sebagai pemelihara situs. Ia yang tidak mau disebut juru kunci mengatakan, dirinya mendapat tugas dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Jawa Tengah untuk memelihara Situs Cilongok sejak tahun 2011, mengantikan tugas ayahnya Sudiro karena telah pensiun menjadi perangkat desa.

Saat diajak bercerita tetang situs, Parwati memanggil ayahnya Sudiro juru kunci sebelumnya. Sudiro mengaku dirinya mendapat tugas untuk memelihara situs sejak adanya penelusuran benda purbakala oleh BPPP Jawa Tengah pada tahun 81-an.

“Dalam penelusuran tersebut ada upaya pelestarian dan pembinaan peninggalan arkeologis (benda purbakala) salah satunya Situs Cilongok,” katanya.

Sudiro mengatakan, menurut cerita pendahulunya, ada cerita mistis Watu Lumpang berada dekat lereng Gunung Slamet. Lumpang itu dipinjam oleh kerabat di Ragung untuk hajatan. Saat akan mengembalikan ternyata waktu sudah mendekati subuh. Karena pembawa lumpang makluk ghaib, mereka takut dengan sinar matahari, sehingga lumpang ditinggal di tempat yang sekarang. Menurutnya ada penunggu yang menjaga Situs Watu Lumpang, namanya Rantansari.

Ragung, menurut Sudiro, dari kata Alur Agung, karena konon daerah ini pernah menjadi perlintasan Syech Abdul Qodir Jaelani. Hal ini juga terlihat di atas Situs Watu Lumpang (kurang lebih 30 meter) ada penginggalan petilasan itu.

Walaupun sudah ditetapkan sebagai situs peninggalan purbakala, keberadaannya berada di tanah perorangan. Sekretaris Desa Sambirata, Mislakhin, saat dikonfirmasi membenarkan adanya Situs yang ada di desanya. Walaupun belum pernah dibukukan, cerita Situs Watu Lumpang senada yang disampaikan oleh Sudiro.

“Situs itu berada di tanah milik Bapak Fahmi, putra dari Kades Sambirata waktu dulu Pak Hisam,” katanya.

Walaupun sampai saat ini belum ada penelitian lebih lanjut, tetapi upaya untuk mempertahankan masih ada. Hal ini terlihat dari papan nama maupun papan himbauan di sekitar situs yang dikeluarkan oleh Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas.

Situs Watu Lumpang

Banyak Pengunjung

Tanda-tanda situs masih sering dikunjungi seseorang, menurut Parwati, terbukti dengan adanya barang yang tertinggal seperti bunga maupun menyan pada hari Jumat dan Selasa.

“Biasanya malam Jumat atau malam Selasa Kliwon saya menemukan bunga maupun menyan di sekitar Watu Lumpang. Itu menandakan ada orang yang berkunjung di sini pada malam hari,” katanya.

Menurutnya, dia jarang menanyakan maksud tujuan orang berkunjung ke situs, kerana itu sifatnya pribadi. Dan pengunjungpun bukan orang sekitar, mereka orang luar desa.

“Kalau dulu kebanyakan untuk meramaikan grup kesenian, seperti kelompok kesenian ebeg dan group lengger mereka melakukan ritual di situ agar laris katanya,” jelas Parwati.

Sedangkan untuk keseharian ada beberapa anak muda yang berkunjung, hanya untuk melihat-lihat saja peninggalan purbakala itu. (BNC/Parsito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.